Papa, Kembalikan Tangan Ita…

aku sayang ibu dan ayah

Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman sebagai pelajaran.

Sebagai orang tua kita patut juga menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.

Begini kisahnya:

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Baca lebih lanjut

Iklan

Cinta Putih

anak masih suci“Ini siapa yang makan kue tidak dihabiskan?” tanya saya kepada isteri malam itu. Di meja makan, terdapat sepotong kue yang tak habis termakan. “Itu potongan untuk Abang. Anak-anak dapat kue dari tetangga siang tadi, tapi mereka ingin membaginya untuk, Abi,” jelas isteri saya. “Ini Hufha, ini buat dede Iqna, ini Ummi, dan ini buat Abi,” begitu katanya setelah memotong empat bagian kue itu. Anak-anak sudah tidur, semoga dalam mimpinya mereka melihat saya menikmati kue yang sengaja disisakannya. Saya selalu ingat setiap kali anak-anak mendapatkan kue atau makanan enak lainnya, mereka tak lupa menelepon saya di kantor untuk sekadar memberitahu kalau saya tak perlu khawatir, karena mereka akan menyisihkannya untuk saya.

Pagi hari, pertanyaan pertama anak-anak adalah, “Kuenya dimakan nggak, bi?” Baca lebih lanjut

Nilai Sebuah Perhatian

kurang perhatian orang tuaPada suatu malam, Budi seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, Baca lebih lanjut

Aku Ingin Membeli Waktu Ayah, 1 Jam Saja

kesepianSeorang anak yang berusia belasan tahun tampak gelisah saat menjelang malam. Keluar kamar, masuk lagi. Berulang-ulang. Akhirnya si anak memberanikan diri menemui ayahnya yang sedang asyik membaca koran di ruang tengah.

“Yah….” Ayahnya belum merespons. Ia pun mengulangi, “Yah…, Ayah….” Kata si anak mengulangi ucapannya. Dengan suara yang terkesan menakutkan Ayah menjawab, “Hemh, ada apa!”. Masih ada rasa takut di hati anak itu, tetapi kali ini sudah kepalang basah, mumpung ketemu ayahnya. Ia menekadkan diri untuk mengatakan keinginannya, “Yah, aku mau pinjam uang lima ribu rupiah”. Sang Ayah malah membentak “Buat apa…?! Malam-malam begini waktunya tidur bukan malah minta duit! Sudah, sana tidur!” Baca lebih lanjut

Kejujuran 2 Anak Penjual Tisu

bunga dari tisuSiang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Baca lebih lanjut