Papa, Kembalikan Tangan Ita…

aku sayang ibu dan ayah

Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman sebagai pelajaran.

Sebagai orang tua kita patut juga menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa. Mengajar dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.

Begini kisahnya:

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Baca lebih lanjut

Nilai Sebuah Perhatian

kurang perhatian orang tuaPada suatu malam, Budi seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, Baca lebih lanjut

Aku Ingin Membeli Waktu Ayah, 1 Jam Saja

kesepianSeorang anak yang berusia belasan tahun tampak gelisah saat menjelang malam. Keluar kamar, masuk lagi. Berulang-ulang. Akhirnya si anak memberanikan diri menemui ayahnya yang sedang asyik membaca koran di ruang tengah.

“Yah….” Ayahnya belum merespons. Ia pun mengulangi, “Yah…, Ayah….” Kata si anak mengulangi ucapannya. Dengan suara yang terkesan menakutkan Ayah menjawab, “Hemh, ada apa!”. Masih ada rasa takut di hati anak itu, tetapi kali ini sudah kepalang basah, mumpung ketemu ayahnya. Ia menekadkan diri untuk mengatakan keinginannya, “Yah, aku mau pinjam uang lima ribu rupiah”. Sang Ayah malah membentak “Buat apa…?! Malam-malam begini waktunya tidur bukan malah minta duit! Sudah, sana tidur!” Baca lebih lanjut

Mereka Meniru Kita…

anak-kasarSuatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.

Maafkan Ayah ,Nak..

“Dari mana kamu, Rafli?”

Suara itu memecahkan keheningan malam, menahan langkah kaki yang dari tadi melangkah perlahan-lahan memasuki rumahnya seperti seorang maling. Sepasang kaki itu adalah milik seorang remaja SMA, bernama Rafli.

“Astaghfirullah, ini sudah malam, kamu liat ga ini jam berapa? Jam 2 malam Nak!” Pria itu makin meninggikan suaranya.

“Biasa, tadi main bentar”, remaja itu berjalan cepat meninggalkan pria—yang tidak lain adalah ayahnya sendiri- menuju kamarnya. Baca lebih lanjut